Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), BPSDMP Kementerian Perdagangan menyelenggarakan Obrolan Ekspor dengan tema “Strategi Penetrasi Pasar Amerika Serikat dan Inggris untuk Produk Furniture” yang disiarkan secara langsung dari lokasi usaha alumni Export Coaching Program (ECP) PPEJP, Kamis 22 Oktober. Acara tersebut dipandu oleh host Dian Mauleni dengan menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Fasilitator PPEJP sekaligus praktisi ekspor, Calex Supriyatno dan Direktur CV. Mebel Internasional, Fransiskus Prabawa. Calex Supriyatno menyampaikan bahwa kunci utama bagi eksportir furnitur Indonesia untuk memenangkan persaingan pasar global dan menghindari perang harga adalah melakukan inovasi tiada henti dalam menciptakan keunikan produk (positioning). Inovasi tersebut mencakup tiga lapisan unsur produk, yaitu pengembangan fungsi pada produk inti (seperti meja samping tempat tidur multifungsi), modifikasi desain fisik dan variasi material pada produk berwujud secara berkala agar tidak mudah ditiru pesaing, serta penguatan layanan pada produk tambahan. Ia menekankan bahwa ketepatan waktu pengiriman, keberanian memberikan garansi mutu, kemampuan menghitung kalkulasi harga jual ekspor secara akurat, serta fleksibilitas menerima pengiriman campur item dalam satu kontainer (mixed container) maupun pesanan dalam jumlah kecil (small MOQ) menjadi keunggulan kompetitif eksportir Indonesia. Fransiskus Prabawa memaparkan bahwa pasar Amerika Serikat dan Inggris memiliki karakteristik permintaan, tren desain, serta standar regulasi yang berbeda. Pasar Amerika Serikat umumnya membutuhkan pesanan berkapasitas besar dengan skema Original Equipment Manufacturer (OEM), perpaduan berbagai material (mixed materials seperti kayu, keramik, batu, logam, dan anyaman), serta integrasi teknologi pintar pada furnitur (smart furniture seperti fitur pengisian daya nirkabel dan lampu sensor gerak otomatis), sedangkan pasar Inggris menggemari kayu solid dan mindi bergaya klasik Eropa (French/Louis style) yang kini bertransformasi lebih minimalis. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap legalitas kayu dan sertifikasi internasional—mulai dari SVLK, FSC, EUDR/UKTR, standar ketahanan api Inggris (Fire Safety BS 5852), audit Social Compliance, hingga uji kemasan ISTA—serta pengendalian mutu kekeringan kayu hingga kering tanur (kiln-dried) agar tahan menghadapi iklim empat musim dan penguatan digital branding perusahaan untuk membangun kepercayaan buyer.

